Tampilkan postingan dengan label kesimpulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesimpulan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 November 2016

pidato singkat yang berjudul pemaaf



PEMAAF

     Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pada suatu pergaulan kadang-kadang terjadi kesalahan atau kekeliruan, baik disengaja maupun tidak disengaja, dan menyebabkan hubungan mereka tidak harmonis. Oleh karena itu, agama Islam memberikan tuntunan tentang maaf-memaafkan. Menurut ajaran Islam, orang yang bersalah, baik kesalahan itu disengaja maupun tidak disengaja apabila orang tersebut mau meminta maaf, maka ia termasuk orang yang baik. Begitu juga dengan orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain.

Firman Allah SWT.,
“…Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Q.S An Nur : 22)
Dan Q.s al a’raf : 199
“Jdilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”

Dapat disimpulkan, bahwa Allah memerintahkan kepada kita melakukan tiga hal, anatara lain:

1.     Bersikap pemaaf
Apabila orang lain berbuat kesalahn pada diri kita, maka kita harus memaafkan perbuatan atau tingkah lakunya (kesalahn mereka).
2.     Menyuruh manusia berbuat makruf
Bilamana ada orang yang berbuat atau melakukan perbuatan tercela, kita harus dapat memberikan teguran dan sekaligus menunjukkan perbuatan yang baik.
3.     Menjauhkan diri dari orang yang jahil
Berusaha menjauhkan diri dari orang-orang yang bersikap kasar dan suka berbuat keonaran dan sulit untuk disadarkan.

     Memaafkan itu sangatlah peting! Seperti contoh ketika Nabi sedang berjalan, beliau bertemu dengan seorang suku Badui. Orang Badui itu menarik selendang beliau dengan keras sehingga leher beliau menjadi merah. Setelah itu, orang Badui itu berkata, “Hai Muhammad, berilah harta Allah yang ada padamu itu!.” Beliau memandang orang itu sambil tersenyum, dan permintaan orang Badui itu dipenuhinya.
Perbuatan Nabi tersebut menjadi pelajaran bagi kita. Dapat disimpulkan bahwa orang yang telah berbuat kasar dan zalim tidak mesti dibalas dengan kekerasan pula. Kita sebagai umat Islam harus berjiwa besar dan berlapang dada dan juga kita harus menyadari pula bahwa memaafkan kesalahan orang lain adalah sifat yang terpuji dan mulia.

     Minta maaf kepada orang lain itu merupakan pekerjaan yang sangat berat. Akan tetapi, hal itu wajib dilakukan sebab kalau tidak, dosa terhadap manusia akan terbawa sampai mati apabila belum saling memaafkan.

Kesimpulannya:

     Dalam kehidupan, hendaknya kita dapat bersikap rendah hati dengan mau meminta maaf bila berbuat salah, berhati lapang atau ikhlas memaafkan kesalahan oranglain, baik diminta ataupun tidak diminta, dan bersikap bijaksana dengan mempertimbangkan seluruh perkataan atau perbuatan yang akan dilakukan. Jadilah orang yang pemaaf dan sabar, karena sikap pemaaf dan sabar akan membawa pada kemuliaan, kehidupan yang harmonis, dan senantiasa bersama Allah SWT.! Aamiin..

peranan cendekiawan muslim dalam sejarah



PERANAN CENDEKIAWAN MUSLIM DALAM SEJARAH

     Menurut KBBI, cendekiawan adalah orang yang memiliki sikap hidup untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan berpikirnya agar dapat mengetahui atau memahami sesuatu. Dalam sejarah tercatat bahwa sebelum bangsa Eropa mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, misalnya ilmu fiska, sosiologi, matematika dan kedokteran. Negara-negara Islam di Timur Tengah telah menjadi pusat ilmu pengetahuan. Selain itu, Negara-negara tersebut juga menjadi tempat berkumpulnya cendekiawan muslim untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selanjutnya, tokoh-tokoh cendekiawan muslim di bidang agama mempunyai peranan yang sangat penting terhadap perkembangan Islam.
A. Di bidang Ilmu Tauhid
     Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang keesaan Allah SWT.
1.     Abu Hasan Al Asy’ari (873-935 M)
Pada mulanya beliau adalah murid Al Jubai seorang penganut paham Mustakzilah. Oleh karena perbedaan pendapat, akhirnya ia membentuk paham Al Asyariah menjelaskan bahwa sifat wajib bagian ahlusunah wal jamaah. Ajarannya itu menjelaskan bahwa sifat wajib bagi Allah itu ada 13, dan ditambah 7 sifat maknawiah, sehingga menjadi 20 sifat. Sifat-sifat wajib bagi Allah itu sampai sekarang dijadikan salah satu pelajaran dalam ilmu tauhid.
Abu Hasan mempunyai peranan yang sangat besar terhadap perkembangan Islam. Para pengikutnya antara lain Al Baglami dan Imam Ghazali. Karya-karya beliau anatara lain:
a.     Maqalatun Islamiyyin (pendapat golongan Islam), dalam buku tersebut diuraikan masalah kepercayaan Islam serta persoalan-persoalan ilmu kalam.
b.     Al Ibanah an ushuluddiyanah (penjelasan dasar-dasar agama)
B. Di bidang Ilmu Fikih
    1.   Imam Abu Hafifah/Imam Hanafi (700-767 M)
Dalam mengajarkan ilfu fikih beliau berpegang pada kitabullah (Al Quran) dan Hadist. Beliau tidak menghendaki adanya taklid dan bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya dari Al Quran dan Hadist. Ia adalah seorang yang diberi predikat Al Imam Al azham karena keluasan ilmunya dan  ia adalah orang yang berpengalaman dalam berbagai bidang, diantaranya ilmu kalam (tauhid), perekonomian, dan terampil menggunakan logika untuk mengatasi berbagai persoalan fikih. Ia ahli dalam mempraktikan hokum islam terutama dalam bidang perdagangan melalui pendekatan qias dan istikhsan.
Beliau berpendapat bahwa imam atau ulama haruslah bebas dari ikatan-ikatan kedudukan, sehingga ia bebas melancarkan kritik-kritik terhadap pengusasa dan bebas menyampaikan hal-hal yang dianggap benar. Mazhabnya tersebar di Maroko, Tunis, Afganistan, dan Pakistan.
C. Di bidang Ilmu Akhlak
      Akhlak ialah ilmu yang membahas perbuatanatau tingkah laku manusia apakah itu perbuatan baik ataupun buruk.
     1. Imam Ghazali (1059-1111 M)
          Beliau termasuk cendekiawan muslim yang menguasai ilmu fikih, ilmu kalam, tafsir, filsafat, dan akhlak. Beliau mendapat gelar Hujjatul Islam karena sangat berjasa dalam agama Islam. Karya-karyanya adalah Maqasid falasifah, Tahafut Al Falasifah, Al Aufaq, dan bukunya yang sangat terkenal berjudul Ihya Ulumuddin. Dalam buku tersebut selalu disertai dengan dasar ayat-ayat Al Quran dan Hadist serta diuraikan tentang sasaran untuk mencapai kebahagiaan hidup sebab beliau mengakui bahwa pengetahuan duniawi belum dapat mencapainya.
D. Di bidang Ilmu Pengetahuan
      1. Ibnu Sina (980-1037 M)
          Ibnu Sina adalah tokoh cendekiawan muslim di bidang agama, fisika, biologi, matematika, logika, kedokteran dan filsafat. Pada usia 10 tahun beliau sudah hafal Al Quran dan mempelajari kesusastraan. Pada usia 16 tahun beliau sudah menguasai ilmu biologi dan ilmu kedokteran. Pada usia 17 tahun dipanggil oleh penguasa Bukhara yang bernama Pangeran Nuh bin Mansyur untuk mengobatinya, kemudian berhasil sembuh.
Karya-karyanya antara lain:
a.     Al Kanon, yang berisi ilmu kedokteran.
b.     An Najad, ringkasan dari buku Asy Syifa.
c.      Asy Syifa, yang berisi filsafat.
E. Di bidang Ilmu Biologi
1. Al Jahiz (775-868 M)
Beliau menulis tentang zoology dengan karya bukunya yang berjudul Al Hayawan, menguraikan tentang macam-macam binatang.
F. Di bidang Ilmu Sosial
     1. Ibnu Khaldun (1332-1406 M)
          Beliau ahli dalam bidang sejarah, politik, sosiologi, dan ekonomi. Ia disebut ahli filsafat sejarah yang pertama. Hal ini patut dibanggakan karena keaslian, kedalaman, dan kekuatan pemikirannya. Ia adalah orang yang sangat luar biasa saat itu dalam lingkup sejarah dan sosiologi.


Kesimpulannya:
Cendekiawan muslim yang telah disebutkan, dan cendekiawan muslim yang tidak saya sebutkan, mereka telah memberikan sumbangan yang besar bagi kemajuan Islam dan Ilmu pengetahuan. Mereka merupakan teladan bagi generasi Islam selanjutnya terutama dari segi sikapnya yang mencintai ilmu pengetahuan, tekun, rajin, dan cerdas. Nah, bagaimana dengan diri kalian dan khususnya saya sendiri sebagai generasi muda Islam?


SEMOGA BERMANFAAT:')